PEMOTONGAN HEWAN QURBAN CONTOH NABI

Standar

Contoh Nabi

Sebenarnya cara-cara memotong hewan kurban sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi ajaran itu sendiri perlu ditafsirkan dan harus dirinci sendiri oleh umatnya. Seperti misalnya pemotongan hewan harus dilakukan setelah shalat Idul Adha, kalau dilakukan sebelumnya, maka kurbannya tidak sah, menjadi pemotongan biasa. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Buchari disebutkan ketika memotong kambing/hewan kurban letakkanlah telapak kaki (kanan) si pemotong diatas batang leher hewan sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Seorang sahabat bernama Anas,r.a. berkata: ”Pernah Nabi Muhammad SAW berkurban dengan dua ekor kambing gibas (domba) yang bagus-bagus. Maka aku lihat ia meletakkan telapak kakinya diatas batang leher domba-domba itu, lalu dibacanya Bismillah dan dibacanya pula takbir, kemudian disembelihlah kedua ekor kambing itu”.

Tentunya telapak kaki diletakkan diatas batang leher itu maksudnya, setelah kambing itu dipegangi oleh orang lain kedua kakinya dan sesudah dibaringkan dan lehernya diletakkan diatas lubang tempat menyimpan darah.

Disayaratkan pula agar perkakas untuk memotong hewan itu tajam, bukan yang runcing atau jangan yang tumpul, agar binatang itu cepat mati tidak teraniaya. Sabda Nabi: ”Bila engkau hendak membunuh, maka baikkanlah pembunuhanmu itu, dan bila kamu hendak menyembelih, maka baikkanlah penyembelianmu itu, dan hendaklah kamu menajamkan pisaumu dan menyenangkan penyembelihanmu itu” (Hadits Riwayat Muslim).

Seperti sering dikemukakan oleh para kiai, berdasarkan Hadits Nabi, hewan kurban harus sehat, tidak cacat baik mata, telinga, bibirnya maupun kakinya tidak pincang dan juga tidak terlalu kurus. Hewan kurban harus sehat ketika hendak dipotong tidak boleh sakit-sakitan termasuk mencret. Bagi orang yang berniat kurban dengan ikhlas, ketika hewan kurbannya dipotong sebelum darahnya menetes ke tanah, darah itu sudah sampai disisi Allah. Jadi Allah sudah tahu dengan teramat cepat siapa yang berkurban itu. Darah hewan yang berbulu putih lebih disukai dibandingkan dengan darah hewan yang berbulu hitam.

Sebagai Saksi

Mengapa hewan kurban harus bagus, gemuk dan sempurna, tidak boleh cacat, termasuk kedua tanduknya harus kuat, tidak boleh patah kedua-duanya atau patah sebelah. Isteri Nabi Muhammad SAW, Siti Aisyah pernah berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

”Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai oleh Allah dari Bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat sebagai saksi dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu bahagiakanlah dirimu dengan berkurban itu”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Dengan demikian tanduk, kuku dan rambut jangan dibuat cacat. Rambut hewan kurban jangan dipotong sampai gundul ketika hewan itu akan disembelih. Pembagian daging kurban tidak seperti pembagian zakat fitrah, tetapi hanya untuk fakir dan miskin termasuk orang/anak terlantar. Namun bila ada warga non muslim yang termasuk katagori miskin, kalau mau boleh juga diberi bagian.

Berkurban adalah ibadah sunnah muakadah, artinya sunat yang dikuatkan. Bagi yang tidak mampu tidak diharuskan, sebaliknya mereka justru menerima daging kurban. Adapun hewan yang bisa dijadikan kurban adalah hewan ternak piaraan, bukan binatang buas. Binatang piaraan itu diantaranya kambing/domba/gibas untuk satu orang pengurban, sapi atau kerbau atau unta untuk tujuh orang pengurban, tetapi bagi yang sangat mampu boleh juga untuk satu orang.

Hewan yang dijadikan kurban sebaiknya JANTAN, tetapi kalau susah mencari yang jantan, yang betina pun tidak menjadi soal, asal memenuhi syarat umur, kesehatan dan kesempurnaan.

Tetapi bagaimana kalau terjadi kasus, bahwa kambing/hewan yang dipotong itu ternyata sedang bunting dan didalam perutnya terdapat janin? Menurut Hadits Riwayat Abu Daud, salah seorang sahabat nabi bernama Abi Said, r.a, berkata ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, karena ia pernah menyembelih hewan kurban ternyata didalam perutnya ada janin, lalu ia bertanya kepada nabi, akankah kami buang?, atau boleh kami makan? Jawab Nabi Muhammad SAW: ”Makanlah jika kamu mau memakannya, karena penyembelihannya terhitung dengan penyembelihaan induknya”.(HA Manan-35).

Komentar ditutup.